MAKALAH
LANGKAH-LANGKAH DAN TEKNIK KONSELING
Untuk memenuhi tugas mata kuliah bimbingan dan konseling
Dosen pengampu:
Ellyana Iisan Eka PutriM.Psi


Disusun oleh:
Abdul rohman
Fitri mimbawarni D
Luthfi hanifatul M

KELAS 3A
PROGRAM STUDY PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI
2019










KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat,taufiq dan hidayahnya kepada kita untuk menuju jalan yang terpuji sholawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada nabi Muhammad saw sehingga saya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “langkah-langkah dan teknik konseling”.
Makalah ini telah kami susun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling yang diampu oleh Ibu Ellyana llsan Eka PutriM.Psi.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.



Genteng,4 november 2019

Penulis













DAFTAR ISI

Halaman judul
Kata pengantar
Daftar isi
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Rumusan masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
1.  Apa saja langkah dan teknik dalam konseling?
A.   Menciptakan hubungan terapeutik dengan konseli?
B. Penampilan yang seharusnya bagi seorang konselor?
C. Senyum dan empati adalah bagian daripada teknik dan langkah yang ditempuh bagi seorang konselor, bagaimanakah pelaksanaannya?
D. Jenis komunikasi nonverbal dalam konseling?
E.   keberhasilan konseling.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA







BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap manusia pada dasarnya memerlukan bimbingan sejak kecil untukmempersiapkan masa dewasanya kelak supaya dapat diterima oleh lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat dengan bimbingan yang benar akan berjalan baik dan terarah. Karenanya ada yang berkedudukan sebagai orang yang membimbing(konselor) dan ada yang orang yang dibimbing (konseli).Perlu kita sadari bahwa dalam dinamika konseling, berbagai macam manusia(klien/konseli) yang akan dihadapi oleh seorang konselor memiliki karakteristikyang berbeda, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan yang berbeda-beda satusama lain. Oleh karena itu, sebagai seorang konselor harus mengetahui danmemahami akan langkah dan teknik dalam menangani heterogenitas masalah yangdimiliki oleh setiap konseli sehingga mampu untuk memberikan bantuan kepadakonseli seoptimal mungkin dengan langkah dan teknik yang baik dan benar.Oleh karenanya, berangkat dari wacana tersebut , kami telah menyelesaikanmakalah ini agar mampu membantu dan menjawab segenap persoalan yang terjadi ketika menghadapi konseli dengan heterogenitas masalah yang beragam jenisnya.
B. Rumusan masalah
1. Apa saja langkah dan teknik dalam konseling?
A. Bagaimana menciptakan hubungan terapeutik dengan konseli?
B. Apa  jenis komunikasi nonverbal dalam konseling?
C. Bagaimanakah penampilan yang seharusnya bagi seorang konselor?
D. Senyum dan empati adalah bagian daripada teknik dan langkah yang ditempuh bagi seorang konselor, bagaimanakah pelaksanaannya?
E. Bagaimanakah tolak ukur keberhasilan konseling.
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui lebih dalam langkah dan teknik yang digunakan dalam konseling
A. Agar memahami tentang cara menciptakan hubungan terapeutik dengan konseling
B. Agar mengetahui bagaimanakah penampilan yang ideal bagi seorang konselor.
C. Untuk mengetahui bagaimana cara menempatkan sikap untuk tersenyum dan rasa empati seorang konselor kepada konseli.
D. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan komunikasi dan komunikasi verbal yang dilakukan dalam konseling.
E. Untuk mengetahui bagaimanakah konseling dapat dikatakan berhasil dari berbagai macam perspektif

BAB II PEMBAHASAN
A. Menciptakan Hubungan Terapeutik Dengan Konseli
Komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien, serta komunikasi yang dilaksanakan secara sadar dan bertujuan juga kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
1. Proses Pendekatan Terapeutika.
-Tujuan-Tujuan Terapeutik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari oleh klien. Prosesterapeutik difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampaudirekontruksi, dibahas,dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran mengkontruksi kepribadian. Tetapi psikoanalitik menekankan dimensi efektif dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui.
-Hubungan antara Terapis dan Klien
Yang menjadi inti pendekatan psikoanalitik. Transferensi mendorong klien untuk mengalamatkan pada analis "urusan yang tak selesai", yang terdapat dalam hubungan klien dimasa lampau dengan orang yang berpengaruh. Proses pemberian treatment mencakup rekonstruksi klien dan menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampaunya. Setelah terapi berjalan dengan baik, perasaan-perasaan dan konflik-konflik masa kanak-kanak klien mulai muncul kepermukaan dari ketaksadarannya. Pendek kata, analis menjadi pengganti orang-orang lain yang berpengaruh dalam kehidupan klien.Pendekatan psikonalitik berasumsi bahwa kesadaran diri ini bisa secara otomatis mengarah pada perubahan kondisi klien.
- Penerapan : Teknik-Teknik dan Prosedur - prosedur Terapeutik
Teknik-teknik pada terapi psikoanalitik disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, dan untuk memahami makna sebagai gejala. Kemajuan terapeutik berawal dari pembicaraan klien kepada katarsis, kepada pemahaman, kepada penggarapan bahan yang tak disadari ke arah tujuan-tujuan pemahaman dan pendidikan ulang intelektual danemosional, yang mengarah pada perbaikan kepribadian. Kelima teknik dasar terapi psikoanalitik adalah a) Asosiasi bebas; b) Penafsiran; c) Analisis mimpi; d)Analisis atas resistensi; e) Analisis atas transferensi.
a) Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan-pelepasan emosi-emosi yang berkaitandengan situasi-situasi traumatik di masa lampau, yang dikenal dengan katarsis.Katarsis hanya menghasilkan peredaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan yang dialami klien, tidak memainkan peran utama dalamproses treatment psikoanalitik kontemporer; katarsis mendorong klien untuk menyalurkan sejumlah perasaann yang terpendam ,dan karenanya meratakan jalan bagi pencapaian pemahaman. Guna membantu klien dalam memperolehpemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna asosiasi bebas ini selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan di kurung didalam ketaksadaran
b) Penafsiran
 Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisa asosiasi-asosiasibebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan,bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan olehmimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutikitu sendiri. Fungsi penafsiran itu sendiri adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan taksadar lebih lanjut. Dengan perkataan lain, analis harus harus menafsirkan bahan yang belum terlihat oleh klien, tetapi yang oleh klien bisa diterima dan diwujudkan sebagai miliknya
c) Analis Mimpi
Analis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tidak di sadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tak terselesaikan. Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifest.isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tak disadari.Karena begitu menyakitkan dan mengancam, dorongan-dorongan seksual danagresif tak sadar merupakan isi laten ditransformasikan kedalam isi manifest yanglebih dapat diterima yakni impian sebagaimana yang tampil pada simimpi. Prosestransformasi isi laten mimpi kedalam isi manifes yang kurang mengancam itudisebut kerja mimpi. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari symbol-simbol yang terdapat isi manifes mimpi .Selama jam analitik analis bisa meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isis manifes impian guna menyikap makna-makna yang terselubung.
d) Analisa dan Penafsiran Resistensi
Resistensi, sebuah konsep yang fundamental dalam praktek terapi psikoanalitik, adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Selama asosiasi bebas atau asosiasikepada mimpi-mimpi, pasien bisa menunjukan ketidaksediaan untuk menghubungkan pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yangdigunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisadibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi itu.Resistensi ditujukan untuk mencegah bahan yang mengancam memasuki kesadaran, analis harus menunjukannya, dan klien harus menghadapinya jika dia mengharapkan bisa menangani konflik-konflik secara realistis. Penafsiran analisatas resistensi ditunjukkan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya. Resistensi-resistensi bukanlah hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena merupakan perwujudan dari pendekatan-pendekatan defensif klien yang biasa dalam kehidupan sehari-harinya ,resistensi-resistensi harus dilihat sebagai alat bertahan terhadap kecemasan, tetapi menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan.
e) Analisis dan Penafsiran Transferensi
Sama halnya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari psikoanalitik. Transperensi mengejawantahkan dirinya dalam proses terapeutik ketika “urusanyang tak selesai” di masa lampau klien dengan orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang dan bereaksi terhadap analis sebagaimana dia bereaksi terhadap ibu atau ayahnya. Sekarang dalam hubungannya dengan analis, klien mengalami kembali perasaan-perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakannya terhadap orang tuanya. Sebagaimana besar terapis psikoanalitik menekankan bahwa pada akhirnya klien harus mengembangkan “neurosistransferensi” itu, sebab neurosis yang dialami klien bersumber pada lima tahun pertama kehidupannya, dan sekarang dia secara tidak semestinya membawa neurosis itu kemasa dewasa sebagai kerangka kehidupannya.Analisis membangkitkan neurosistransferensi dengan kenetralan, keobjektifan,keanoniman, dan kepasifannya yang relatif. Analisis transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis , sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Singkatnya efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan, dihambat oleh penggarapan konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
B. Komunikasi Dan Jenis Komunikasi Nonverbal
-Bentuk Komunikasi
Proses komunikasi dapat diklasifikasikan menurut bentuk atau macamnya.Diantara bentuk atau macamnya adalah :
a.Komunikasi Tatap Muka
Proses komunikasi ini dikatakan juga sebagai komunikasi langsung (directcommunication), yaitu ketika berlangsung komunikasi antara komunikatordan komunikan saling berhadapan dan saling melihat, sehinggakomunikator dapat memperhatikan respon komunikasi saat itu juga.Komunikasi ini juga sering disebut sebagai komunikasi arus balik atauumpan balik, yaitu feedback  – nya terjadi secara langsung.
b.Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal (interpersonal communication) adalahkomunikasi antara komunikator dengan komunikan (orang per orang).Komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap,pendapat dan perilaku seseorang, karena sifatnya dialogis atau percakapandan arus baliknya bersifat langsung.
c.Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok (group communication) di dalamnya termasuk juga komunikasi tatap muka dan komunikasi langsung, karena komunikator dankomunikan berada dalam situasi saling berhadapan dan saling melihat.Bentuk komunikasi ini sama dengan komunikasi interpersonal, yaitu sama-sama menimbulkan arus balik langsung. Perbedaannya terletak pada jumlahkomunikan yang terlibat dalam proses komunikasi. Penting juga untuk diketahui bahwa komunikasi kelompok dapat diklasifikasikan menjadikomunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar
-Teknik Konseling Non-Verbal
Sebagaimana dalam dunia komunikasi, dalam konseling pun ternyata selama ini telah memakai teknik yang sama. Mau tidak mau orang ketika berkomunikasiakan menyampaikan pesan yang beragam tergantung pada konteks dan kondisinya.Dalam istilahnya, orang ketika berkomunikasi dengan orang lain akan senantiasaberbentuk komunikasi verbal dan nonverbal. Verbal itu komunikasi yang secara lisan orang ketika menyampaikan pesannya itu langsung bicara pada orang yang dimaksud. Sementara nonverbal itu lebih pada tanda-tanda atau buatan manusiayang dianggap bisa dimengerti orang lain. Misalnya dengan menggelengkan kepala untuk “tidak” atau menganggukkan kepala untuk “ya”. Untuk nonverbal ini lebih populer dengan gesture atau gerakan badan.
 Teknik konseling nonverbal yaitu perilaku nonverbal menunjuk pada reaksi atau tanggapan yang dibedakan dari berbahasa dengan memakai kata-kata.Misalnya ekspresi wajah, gerak tangan dan lengan, isyarat tangan, sikap badan,anggukan, berbagai gerakan tungkai dan tangan, dalam arti luas. Juga menunjuk pada gejala vokal yang menyerti kata-kata kekeliruan pada saat mengucapkan kata,berbicara, saat diam, kecepatan dan lama berbicara, volume suara, intonasi dan nadabicara (paralinguistic phenomena) Termasuk juga dalam arti yang luas itu berbagaicara membawa diri dan menampilkan diri. Seperti : berjalan, duduk, berpakaian,menata rambut, penggunaan kosmetik dan perhiasan, menyentuh, sinkronisasi antara bicara dan bergerak, perlengkapan kantor, perabot dalam rumah, hiasan-hiasan dalam ruang, dan sebagainya. Di bawah ini ada beberapa istilah dalam teknik konselng nonverbal, misalnya: senyuman , untuk menyatakan sikap menerima, misalnya pada saat menyambutkedatangan konseli, (sikap dasar) : cara duduk yaitu untuk menyatakan sikap rileks dan sikap mau memperhatikan , misalnya membungkuk ke depan, duduk agakbersandar. Sikap badan jelas-jelas menyampaikan pesan kepada konseli (sikapdasar) ; anggukan kepala, untuk menyatakan penerimaan menunjukan pengertian,(sikap dasar) boleh juga menyertai kata-kata yang bertujuan menguatkan dan mendukung ; gerak-gerik lengan dan tangan, untuk memperkuat apa yangdiungkapkan secara verbal. Gerak-gerik semacam itu banyak variasinya danmengandung beragam makna (menguatkan, menunjang) ; atau berdiam diri, yaituuntuk memberikan kesempatan kepada konseli berbicara secara leluasa, mengaturpikirannya atau menenangkan diri (sikap dasar). Bila konseli diam, mungkinkonselor berdiam diri.
 Selain itu, dalam teknik nonverbal dapat pula berupa : mimik (ekspresi wajah,roman muka, air muka, raut muka), yaitu untuk menunjang, mendukung danmenyertai reaksi-reaksi verbal. Mimik pareasi dan pareatif, sedangkan maknanya juga tergantung pada lingkungan budaya daerah tertentu. Misalnya mengerutkandahi, mengerutkan kening, mengangkat alis, senyum dan wajah cerah : kontak mata (konselor mencari kontak mata dengan konseli), yaitu untuk menunjang ataumendukung tanggapan verbal atau menyatakan sifat dasar.Namun yang harus dihindari adalah kesan bahwa konselor mengejar, memaksaatau mempermalukan konseli. Cara menatap muka klien harus wajar. Selaindigunakan juga teknik nonverbal, kontak mata juga berfungsi sebagai saranapengamatan terhadap perasaan yang dialami. Seperti juga gerakan tubuh dankualitas vokal dapat mengandung makna ekspresif afektif; variasi dalam nada suaradan kecepatan bicara digunakan untuk menyesuaikan diri dengan ungkapanperasaan konseli. Misalnya konselor berbicara lebih lemah lembut, lambat, lebihcepat, nada suara lebih tinggi atau lebih rendah. Hal-hal ini termasuk rumpun gejalavokal; sentuhan, yaitu sentuhan berfungsi untuk menunjang tanggapan verbal ataumenyatakan sikap dasar.
Perlu diingat bahwa kontak fisik antara konselor dan klien secara potensial bisamembahayakan. Lebih-lebih dalam lingkup kebudayaan yang cenderung menghindari kontak fisik. Selain berjabatan tangan sebagai tanda salam, apalagikontak fisik di antara orang yang berlainan jenis, termasuk orang dewasa terhadapanak. Maka disarankan supaya konselor mengendalikan diri dalam menggunakan sentuhan sebagai tana perhatian dan keprihatinan.
 Oleh karenanya dalam komunikasi nonverbal dikenal dengan beberapa istilah yaitu :1.Kinestik , yaitu studi yang mempelajari gerakan-gerakan anggota tubuh. 2.Proksemik, yaitu studi yang mempelajari posisi tubuh dan jarak tubuh(ruang antar tubuh) yang biasanya terjadi ketika seseorang melakukan komunikasi interpersonal. 3.Paralinguistik, yaitu studi penggunaan suara dan vokalisasi. 4.Artifaktual, yaitu yang meliputi segala macam penampilan appearance) dari potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, tas dan atribut lainnya. Dilihat dari fungsinya, perilaku nonverbal mempunyai beberapa fungsi. Paul Eikman menyebutkan 5 fungsi. Seperti yang dilukiskan dengan perilaku mata,yakni sebagai berikut : 1.Emblem. Gerakan mata tertentu merupakan simbol yang memilikikesetaraan dengan simbol verbal. Kedipan mata dapat mengatakan sayatidak sungguh-sungguh. 2.Ilustrator. Pandangan ke bawah dapat menunjukan depresi atau kesedihan. 3.Regulator. Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka. Memalingkanmuka menandakan ketidaksediaan komunikasi. 4.Penyesuaian. Kedipan mata cepat meningkat ketika orang mengalami tekanan. Hal ini merupakan respon yang tidak disadari, merupakan respondari tubuh untuk mengurangi kecemasan Affcet display. Pembesaran manik-mata  pupil dilation) menunjukanpeningkatan emosi isyarat wajah lainnya menunjukan perasaan takut,terkejut atau senang
C. Penampilan Konselor
Kualitas pribadi yang konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam konseling. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pribadi yang dimiliki seorang konselor menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif. Dalam realita kehidupan yang ada saat ini, tak sedikit para siswa yang masihtidak mau datang keruang bimbingan dan konseling disebabkan para siswa memiliki kesan bahwa seorang pembimbing atau konselor tersebut bersifat judes atau kurang ramah.Dalam hal ini, pihak lembaga khususnya dalam ranah pendidikan haruslah bertanggungjawab dalam rangka mempersiapkan para calon konselor atau guru pembimbing dengan memfasilitasi semua yang berkaitan dengan perkembangan pribadi mereka yang dapat dipertanggung jawabkan secara profesional.Kualitas pribadi konselor ditandai dengan beberapa karakteristik sebagaiberikut: (a) pemahaman diri; (b) kompeten; (c) memiliki kesehatan psikologis yangbaik; (d) dapat dipercaya; (e) jujur; (f) kuat; (g) hangat; (h) responsif; (i) sabar; (j)sensitif; (k) memiliki kesadaran yang holistik. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
 a. Pemahaman Diri (Self-knowledge) Self knowledge ini berarti bahwa seorang konselor sudah memahami dirinyadengan baik dalam segala aspek yang diperbuat. Pemahaman ini sangatpenting untuk seorang konselor karena ketika seorang konselor dapatmemahami dirinya maka sudah pasti dia akan terampil memahamioranglain. Begitu pula seorang konselor yang memahami dirinya, maka dia akan mampu mengajarkan bagaimana cara untuk bisa memahami diri itukepada orang lain.
b. Kompeten (Competent )Yang dimaksud kompeten disini adalah bahwa seorang konselor itu memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral sebagaipribadi yang berguna. Salahs atu peran seorang konselor kepada konseliialah membantu dalam mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan guna mencapai kehidupan yang efektif dan bahagia.Berdasarkan hal tersebut, ketika seorang konselor yang lemah fisiknya, lemah dalam kemampuan intelektualnya, sensitif emosinya,kurang memiliki kemampuan bersosialisasi, dan kurang memahami nilai-nilai moral maka dia tidak akan mampu mengajarkan kompetensi-kompetensi tersebut kepada konseli.Konselor yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas kompetensinya akan menampilkan sifat-sifat atau kualitas perilaku,diantaranya: seorang konselor akan terus meningkatkan pengetahuannyatentang tingkah laku dan konseling dengan cara membaca atau mengikuti berbagai seminar-seminar terkait profesinya, akan menemukan pengalaman-pengalaman hidup baru dan lebih meluas, mencari cara-carayang paling tepat atau berguna untuk membantu konseli serta mengevaluasidan menindaklanjuti terhadap apa yang sudah dievaluasi.
c. Kesehatan PsikologisKonselor dituntut memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik darikonselinya sebab itu sangat berguna bagi hubungan konseling. Karena apabila konselor kurang sehat psikisnya, maka dia akan teracuni olehkebutuhan-kebutuhan sendiri dan kebingungan dengan apa yang sedang dialami. Konselor yang kesehatan psikologisnya baik akan menikmati kehidupannya secara nyaman serta selalu melakukan aktifitas-aktifitas yangpositif seperti membaca, menulis dan berolahraga.
d. Dapat Dipercaya Kualitas yang satu ini berarti bahwa seorang konselor tidak menjadiancaman bagi seorang konseli, yang mana seorang konseli tidak merasacemas atau khawatir jika semua curahan hatinya akan diceritakan kembalikepada oranglain. Dalam kegiatan konseling pun seorang konseli haruslah mempercayai bahwa seorang konselor dapat memberikannya motivasi untuk membantu menemukan jalan keluar dari suatu masalah atau apa yangsedang dialami. Konselor yang dipercayai cenderung memiliki kualitassikap dan perilaku yang bertanggungjawab, mampu merespon orang lainsecara utuh, tidak ingkar janji dapat dipercaya oleh oranglain baik ucapanatau perbuatan serta memiliki pribadi yang konsisten.
e. Jujur ( Honesty) Dalam hal ini yang dimaksud dengan jujur itu ialah seorang konselor ituharus bersikap transparan (terbuka) akan tetapi tetaplah seorang konselorharus menerapkan asas kerahasiaan dalam menjalankan tugasnya. Sikap jujur ini sangat penting didalam konseling sebab ini akan menimbulkanbeberapa dampak terhadap seorang konseli diantaranya ialah, kejujurankonselor dapat memberikan umapn balik secara objektif kepada konseli danmenjalin hubungan psikologis yang lebih dekat karena jika tidak ada salingketerbukaan dalam konseling dapat menyebabkan terhalangnyaperkembangan konseli.
f. Kekuatan (Strength) Point ini sangatlah penting untuk ditanamkan didalam diri seorang konselorsebab itu akan menjadikan seorang konseli merasa aman. Disamping itu,seorang konseli memandang konselor sebagai orang yang tabah dalammenghadapi masalah, dapat mendorong konseli untuk mengatasimasalahnya dan dapat menanggulangi kebutuhan serta masalah pribadinya.
g. Bersikap Hangat Yang dimaksud dengan bersikap hangat itu adalah ramah, penuh perhatiandan memberikan rasa kasih sayang. Pada umumnya seorang konselimelakukan konseling terhadap konselor karena mereka merasa kurangmengalami kehangatan dalam hidupnya sehingga dia lari terhadap konseloruntuk mendapatkan itu semua. Jika seorang konselor tidak memiliki rasa ini maka mustahilah seorang konseli akan merasa aman dan nyamandidekatnya.
h. Actives Responsiveness Konselor itu sebagai pendengar yang baik untuk para konseli, dimanaseorang konselor dapat mengkomunikasikan perhatian dirinya terhadapkebutuhan konseli. Saling berdiskusi dengan konseli tentang caramengambil keputusan yang tepat dan membagi tanggungjawab dengankonseli dalam proses konseling.
i. Sabar (Patience) Melalui kesabaran dalam proses konseling dapat menggambarkan bahwakualitas sikap dan perilaku konselor yang tidak tergesa-gesa.
 j. Kepekaan (Sensitivity) Kualitas ini dapat membuat konselor sadar tentang dinamika psikologisyang tersembunyi atau sifat-sifat mudah tersinggung, baik dari diri konselimaupun dirinya sendiri. Konselor yang sensitif akan mampumengungkapkan atau menganalisis apa masalah yang terjadi pada diri seorang konseli.
k. Kesadaran yang Holistik Konselor yang memiliki kesadaran holistik mampu menyadari secara akurat dimensi-dimensi yang kompleks, menemukan cara memberikan solusi danakrab dengan berbagai teori. Adapun seorang konselor memiliki kompetensi kepribadian sebagai individu, sosial, budaya dan religi yang meliputi sub kompetensi dan indikatornya(SKKI), sebagai berikut.
1.Menampilkan keutuhan kepribadian konselor. a.) Menampilkan perilaku membantu berdasarkan keimanan dan ketakwaankepada Tuhan yang Maha Esa.b) Mengomunikasikan secara verbal dan non verbal minat yang tulus dalammembantu orang lain.c) Mendemonstrasikan sikap hangat dan penuh perhatian d) Secara verbal dan nonverbal mampu mengomunikasikan rasa hormatkonselor terhadap klien sebagai pribadi yang berguna dan bermartabat.e) Mengomunikasikan harapan, mengekspresikan keyakinan bahwa klienmemiliki kapasitas untuk memecahkan problem, mengatur dan menatadirinya dan berkembang.f) Mendemonstrasikan sikap empati dan atribusi secara tepat.g) Mendemonstrasikan integritas dan stabilitas kepribadian serta kontroldiri yang baik h) Memiliki toleransi yang tinggi terhadap strees dan frustasi.i) Mendemonstrasikan berfikir positif terhadap oranglain danlingkungannya.
2.Berperilaku etik dan profesional. a.Menyadari bahwa nilai-nilai pribadi konselor dapat memengaruhi respons-respons konselor terhadap klien. b.Menghindari sikap-sikap prasangka dan fikiran-fikiran stereotipeterhadap klien. c.Tidak memaksakan nilai-nilai pribadi konselor terhadap klien.d. Memahami kekuatan dan keterbatasan personal dan profesional. e.Mengelola diri secara efektif. f.Bekerjasama secara produktif dengan teman sejawat dan anggota profesilain. g.Secara konsisten menampilkan perilaku sesuai dengan kode etik profesi.
D. Senyum dan Empati
- Peranan Senyuman dalam Konseling
Senyum adalah gerak tawa ekspresif dan tidak bersuara untuk menunjukan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya. Dengan mengembangkan bibir seni Dalam proses konseling, senyuman yang tulus merupakan bagian terpentingsebagai sikap yang harus dilakukan oleh konselor. Dan sebagai salah satu carakomunikasi non verbal, senyum juga mempunyai arti yang dapat mempengaruhiproses kegiatan konseling, karena akan mempunyai pengaruh yang berbeda antarakonselor yang menggunakan metode pendekatan senyum dengan yang tidak.Senyuman yang tulus dan ikhlas dari konselor diharapkan menjadi bagian dariteknik berempati terhadap kliennya.oleh karena itu, sebagai bagian dari kegiatan komunikasi langsung, maka peran perilaku non verbal “senyuman” merupakan hal yang sangat penting dalam proses pelaksanaan kegiatan kosneling. Kegembiraan adalah salah satu pengalaman manusia yang mendasar, reaksiyang berhubungan dengan kegembiraan, yaitu tersenyum dan tertawa merupakankomponen biologik yang penting, karena memiliki komponen utama yangberhubungan dengan pernafasan dan aktifitas otot. Tersenyum dan tertawa adalahsuatu bentuk ekspresi wajah positif, dalam tinjauan psikologik meliputi :1.Ekspresi senyum untuk meningkatkan hubungan personal dalam melakukanhubungan interpersonal.2.Senyum mengandung bermacam-macam arti atau pesan. Orang yang tersenyumdianggap lebih bahagia, hangat dan lebih riang , lebih sukses dan lebih rileks.Selain itu tersenyum juga merupakan syarat keramahan, yang berfungsi untukmenghindari permusuhan dan memelihara hubungan persahabatan.3.Senyum juga adalah cermin dari kelapangan hati, dan kebahagiaan jiwa, senyum juga dapat menciptakan suasana damai, bersahabat , ramah dan menyenangkan.
-Komunikasi Empati
Kita ulangi pernyataan, “Kita harus menjadi seseorang untuk mengetahuiseseorang”. Pernyataan ini mengandaikan persamaan antara pemahaman dengan empati atau kedekatan psikologis atau identifikasi transkultural. Artinya denganempati sekalipun kita tidak menjadi seseorang atau mereka, kita mampu menterjemahkan apa yang mereka alami atau rasakan, dengan empati membuat apa yang mereka alami, pahami dan dirasakan dapat dipahami. Dengan demikian,empati menjadi sesuatu yang penting dalam konseling, bahkan empati merupakanfakor determinan dalam keberhasilan konseling. Berdasarkan hal itu dapatdipahami bahwa salah satu yang memiliki pengaruh besar terhadap efektivitaskonseling ialah faktor kemampuan berempati seorang konselor. Terdapat tiga ciri empati, yang tampaknya menjalin hampir setiap pendekatan terapi utama, yaitu empati yang akurat, kehangatan yang non posesif kesejatian. Pada dekade akhir-akhir ini, para ilmuan yang mengkaji empati telah berhasil mengidentifikasi tiga pendekatan yang berbeda, yaitu :1.Empathic Responsiveness yaitu akan terjadi jika respon emosional yangdialami seseorang sesuai dengan dan merupakan akibat dari pengamatan terhadap display emosi yang sebenarnya, atau yang diantisipasi dari oranglain (Weaver dan Kirtley : 1995).2.Perspective Taking adalah proses membayangkan diri sendiri berada padaposisi orang lain (Zillman : 1991).3.Sympathetic Responsiveness yaitu proses merasakan keprihatinan,penyesalan, atau kesedihan bagi orang lain karena situasi atau kasus yangdialami orang lain. Langkah pertama dalam meningkatkan kemampuan untuk meningkatkanempati adalah dengan menyediakan waktu dan berusaha memperhatikanpembicaraan orang lain.
E. Keberhasilan Konseling
Keberhasilan program bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakandapat dilihat dari dampak atau pengaruhnya. Keberhasilan dapat dimanifestasikan dari segi kuantitatif (yang ditandai dengan angka lulusan,keberhasilan di perguruantinggi) dan kualitatif yang ditandai dengan perubahan dan perkembangan prilakusubjek yang mendapat layanan bimbingan dan konseling.
Salah satu jurnal psychology membahas tentang penelitian keberhasilan konseling. Salah satunya dipengaruhi besar oleh ekspektasi klien untuk mampu menyimpulkan bahwa konseling itu berhasil. Dan di dapat bahwa pada jurnal initerdapat nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan tentang pengimplementasiankonseling, yaitu nilai yang dapat dikembangkan untuk memicu ekspektasi klien(konseli) agar berkembang yaitu :1.Nilai kesamaan yaitu konselor ahli mampu memberikan gambaran terhadapbeberapa pandangan yang akan mengakibatkan tinggi rendahnya konseliuntuk sukses dan melihat dampaknya.2.Nilai adaptasi yaitu enkulturasi dan akulturasi. Nilai ini dapat membantukonselor untuk mengeksplorasi nilai-nilai kepatuhan suatu negara denganbudaya yang ada sehingga mampu mengembangkan ekspektasi konseli.
 Beberapa kriteria keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling yang bisa dijadikan dasar pengambilan kebijakan atau keputus adalah sebagai berikut:
1.Kriteria Keberhasilan Siswa
Pelaksanaan program bimbingan dan konseling dapat dikatanberhasil apabila para siswa mampu menunjukan prilaku sebagai berikut : a.Mengetahui dan memahami program bimbingan dan konselingyang dilaksanakan sekolahnya b.Mengetahui dan memahami kemampuan dan kelemahan dirinya c.Memahami jenjang pendidikan dan prospek pendidikan yangsedang ditempuh. d.Meningkat dalam pengetahuan,keterampilan dan sikap serta nilai kehidupannya. e.Mampu merencanakan masa depannya, baik yang berhubungandengan kelanjutan pendidikan maupun dunia kerja yang sesuai dengan bakat,minat,dan kemampuanya. f.Memahami dan menyesuailan diri dengan lingkungan sosial yang dihadapi.
2. Kriteria Keberhasilan Guru
Pelaksanaan program bimbingan dan konseling dapat dikatakanberhasil apabila para guru menunjukan prilaku sebagai berikut : a.Mengetahui dan memahami program bimbingan dan konseling yangdilaksanakan disekolahnya. b.Berpartisipasi dalam pelaksanaan program bimbingan dan konselingdengan peran dan tanggungjawab sebagai berikut :a)Bersama-sama merumuskan program bimbingan dankonseling yang akan dilaksanakanb)Menginformasikan dan mengkomunikasikan programbimbingan dan konseling yang dilaksanakan di sekolah padapara siswa,orang tua, dan masyarakat c)Menghimpun data tentang siswa dan menyimpannya denganbaik d)Mengidentifikasi para siswa yang memerlukan bantuan e)Mengkomunikasikan keadaan siswanya pada konselor f)Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individual g)Meneliti kemajuan belajar siswa baik disekolah maupun diluar sekolah) Memahami para siswa sebagai individu yang unik) Membantu memecahkan masalah yang dicapai oleh parasiswa j)Meningkatkan keberhasilan proses belajar mengajar
3. Kriteria Keberhasilan Bagi Perkembangan Sekolah
Pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dapatdikatakan berhasil apabila ditunjukan dengan: a.Tercapainya peningkatan keberhasilan da;am proses pembelajaran b.Tercapinya peningkatan pencapaian tujuan institusional c.Meningkatnya animo masyarakat unutuk menyekolahkan putera-puterinya pada sekolah yang bersangkutan.
4. Kriteria keberhasilan bagi orang tua dan masyarakat
Pelaksanaan program bimbingan dan konseling dapat dikatakankeberhasilan apabila orang tua dan masyarakat menunjukan prilaku sebagaiberikut : a.Mengetahui dan memahami program bimbingan dan konseling yang dilaksanakn di sekolah b.Berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling yangsalah satunya ditandai dengan mengkomunikasikan perkembanganputera-puterinya, terutama diluar sekolah.Untuk mempermudah pelaksanaan analisis, seorang penilai dapatmelihat sampai seberapa jauh kriteria tersebut berdampak dalam prilaku masing-masing subjek layanan. Lebih banyak prilaku yang ditunjukan masing-masing subjek sesuai dengan kriteria di atas, maka gambaran hasilatau dampak pelaksanaan program bimbingan dan konseling bisa dikatakan baik. Cara ini ialah dengan terlebih dahulu menetukan suatu nilai patokan yang harus dicapai, kemudian dibandingkan dengan pencapaiannya sendiri.

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas dapat diketahui bahwa di dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling seorang konselor memiliki tanggung jawab yang besar, seperti halnya dipaparkan di bab pembahasan di atas bahwa di dalam untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang di alami oleh klien seorang konselor harus memiliki teknik-teknik yang digunakan mulai sejak awal pertemuan hingga akhir penyelesaian masalah. Teknik bimbingan dan konseling adalah cara atau metode yang dilakukan untuk membantu, mengarahkan atau memandu seseorang atau sekelompok orang agar menyadari dan mengembangkan potensi-potensi dirinya, serta mampu mengambil sebuah keputusan dan menentukan tujuan hidupnya dengan cara berinteraksi atau bertatap muka. Pada umumnya teknik-teknik yang dipergunakan dalam bimbingan mengambil dua pendekatan, yaitu pendekatan secara kelompok (Group Guidance) dan pendekatan secara individual Individual Guidance Counseling. Ada beberapa langkah umum dalam melaksanakan pelayanan BK di Sekolah, seperti: Tahap Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, Analisa dan Tahap Tindak Lanjut.
B. Saran
Kami sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini pasti terdapat banyak kesalahan, kekeliruan dan kekurangan, baik itu dari segi tulisannya, bahasanya ataupun yang lain. Oleh karena itu kami mengharapkan kepada pembacasekalian serta segenap pihak yang bersangkutan, untuk dapat memberikan kritik dan sarannya, agar dapat kami benahi bersama dan dapat kami ambil manfaatnya.


DAFTAR PUSTAKA
Anas Salahudin. 2010.Bimbingan & Konseling. Bandung : CV Pustaka Setia.
Enjang AS. 2009.Komunikasi Konseling. Bandung : Nuansa.
Fenti Hikmawati,Bimbingan Konseling.2010 Jakarta : PT Raja GrafindoPersada.
Gerald Corey. 2013.Teori Dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : PTRefika Aditama.
Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan. 2014.Landasan Bimbingan danKonseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya















Komentar